Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
in feeds
250x250

Produksi Padi Meningkat, Ongkos Tanam Lebih Hemat Berkat Go Sri

Produksi Padi Meningkat, Ongkos Tanam Lebih Hemat Berkat Go Sri

Produksi Padi Meningkat, Ongkos Tanam Lebih Hemat Berkat Go Sri

Hati Darayana senang bukan kepalang. Padi miliknya seluas setengah hektar saat panen musim tanam sebelumnya atau sekitar 6 bulan lalu, tumbuh lebih baik daripada sebelumnya. Padi menguning hingga bulir padinya padat dan besar, lalu saat dimasak tidak cepat basi. Darayana yakin panen musim tanam berikutnya, sekitar dua bulan kemudian, akan meningkat dibanding hasil panen selama 25 tahun lebih ia menjadi petani.

“Sejak semusim lalu, tanahnya ketika di-cebor (garap) kok lebih lembek dan kata yang punya kerbau bilang tanah saya lebih enak untuk digarap,” kata Darayana. Ia yakin saat musim panen kedua hasil lahannya berproduksi lebih banyak dari sebelumnya. “Kalau musim panen lalu hasilnya tidak jauh berbeda dibanding sebelumnya. Tapi, musim panen berikutnya saya yakin hasil panen akan lebih banyak dan bagus,” katanya saat dijumpai di saung sawahnya pada Sabtu (13/9) lalu.

Keyakinan Darayana beralasan. Sejak awal musim panen lalu, ia mengubah cara bertaninya. Darayana mengaku sudah 25 tahun lebih, keliru dalam cara bertani. Ia merasa dengan cara bertaninya merusak kesuburan tanah hingga hasil padi dari lahan sawahnya mengandung zat kimia berbahaya akibat pupuk kimia atau urea yang selalu digunakan.

Pria berwajah tirus terus terang merasa bersalah. Soalnya, hasil padi yang ia peroleh dengan cara mencicil dari mertuanya, selain dijual juga dikonsumsi oleh keluarganya. Hasil padi sebanyak 70% ia jual, sisanya dikonsumsi Darayana bersama keluarganya. “Saya sadar, waktu pakai pupuk urea ternyata zat kimianya masuk ke dalam tubuh saya dan keluarga. Kini, saya enggak perlu takut lagi, karena cara bertani saya alami,” kata Darayana.

Ia menjelaskan sejak 8 bulan lalu ketika awal musim panen sebelumnya, cara bertaninya berubah. Ia tak lagi menggunakan pupuk urea. Darayana menggantinya dengan pupuk kandang yang diperoleh dari ternak kambing milik kakak lelakinya. Ia juga mencampurnya dengan padi kering yang ia dapat dari lahannya.

“Kakak punya ternak kambing delapan ekor. Kotorannya dikumpulkan untuk dijadikan pupuk. Saya juga campur dengan gulma yang ada di sawah. Lalu, saya tidak sekarang tidak pernah bakar jerami. Dibiarkan aja saya simpan kotoran kambing, rumput liar dan jeraminya di saung. Sama aja kayak fermentasi,” kata Darayana.

Ia merasa dengan penggunaan pupuk tersebut, tidak perlu tergantung ketersediaan pupuk di pasar. Darayana dapat memproduksi pupuknya sendiri. “Waktu pakai pupuk urea, saya harus membeli pupuk yang harganya 1 karung dengan isi 50 kilogram seharga Rp 102.000. Kini saya tidak perlu lagi beli pupuk karena dari kakak saya sendiri. Kalau ada bayaran paling uang angkut lah. Lagi pula, dengan harga Rp 102.000, bisa untuk dua hingga tiga kali musim tanam dengan cara bertani saat ini,” kata Darayana.

Darayana bersama kakaknya mampu memproduksi pupuk dari kotoran kambing, rumput liar dan jerami dari hasil sawahnya dalam empat bulan mampu mengumpulkan 40 karung pupuk. Jumlah tersebut mampu ia pakai dalam dua kali musim tanam. Ia berharap dengan menggunakan pupuk tersebut mampu meningkatkan kesuburan tanah. “Bahannya kan alami beda dengan pupuk urea. Semakin lama pakai pupuk urea buat kesuburan tanah berkurang. Tanah saya jadi warna putih dan retak,” kata Darayana.

Tak hanya dari pupuk, Darayana kini menerapkan pertanian secara keseluruhan dengan cara alami. Ia juga tidak menggunakan pestisida sebagai pengusir hama. “Saya pakai kencing kelinci. Cairannya saya semprotkan ke lahan, saya baru tahu kalau kencing kelinci bisa mengusir hama. Saya tidak merasa jijik karena alami,” kata Darayana yang akan mencoba urin kelinci tersebut dengan campuran daun tembakau.

Ia justru merasa terganggu saat harus menggunakan pestisida sebagai pengusir hama. Menurutnya, cairan pestisida memiliki zat yang berbahaya bagi tubuh. “Petani suka menggunakan pestisida banyak agar hama tidak datang,” kata Darayana.

Permasalahan bibit juga tidak dirisaukan Darayana. Selama dua musim tanam ini, ia tidak memerlukan bibit sebanyak sebelumnya. Ia menjelaskan kali ini saat menanam, ia hanya memerlukan satu hingga tiga bibit dalam satu tanaman. “Kalau dulu saya perlu 15 bibit untuk satu tanaman. Saya dulu butuh 40 kilo bibit untuk sekali musim tanam. Sekarang, hanya 5 kilo” kata Darayana.

Ia coba membandingkan biaya tanamnya saat ini dengan sebelumnya. Darayana yakin hasil penjualannya lebih baik kali ini. Alasannya, biaya bertaninya semakin berkurang karena tak perlu membeli pupuk, dan pestisida.

Selain itu, biaya bibitnya juga semakin jauh berkurang. “Kalau dihitung yang gede-gedenya, sekali tanam sebanyak 200 tumbak (1/3 hektar) bisa keluarin biaya hingga Rp 2.500.000 dari awal tanam sampai panen. Kalau sekarang sekitar Rp 1.500.000. Paling terasa biaya bibit, dari Rp 140 ribu jadi Rp 20 ribu,” kata Darayana.

Kini, ia juga mematok harga berasnya lebih mahal dibanding sebelumnya. Ia menjual ke tengkulak sebelumnya hanya seharga Rp 5.500 per blek (setara 1 liter). Kini, ia dapat menjual hasil panennya lebih mahal seharga Rp 7.000-8.000 per blek.

Berawal dari keresahan

Perubahan cara bertani Darayana tidak langsung terjadi. Ia sudah bertani sejak 25 tahun. Baru dua musim tanam atau delapan bulan, ia mengubah cara bertaninya. Awalnya, ia merasa iri dengan hasil panen dari seorang petani muda di desanya.

Pemuda itu bernama, Iwan Ridwan. Usianya baru 30 tahun. Ia bertani belum mencapai 10 tahun, kalah jauh lebih lama dibandingkan Darayana. Namun, Darayana mengakui bahwa hasil panen dari Iwan jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan miliknya. “Saya sering sore-sore keliling desa pakai motor. Waktu lewat lahannya Iwan, saya lihat bulir padinya besar dan tidak hampa,” kata Darayana.

Ia penasaran, namun ia mengakui merasa harga dirinya jatuh seandainya bertanya dengan petani yang usia dan pengalaman bertaninya di bawahnya. “Akhirnya, saya sempat ditawari makan dari hasil panennya. Saya beranikan bertanya pada Iwan,” kata Darayana.

“Kok lain ya rasa berasnya? Tidak hampa,” kata Darayana menceritakan perbincangannya dengan Iwan. “Ini hasil dari lahan Kang,” kata Darayana menirukan ucapan Iwan. Dari perbincangan tersebut, Darayana menyadari selama 25 tahun lebih, ia keliru dalam bertani.

Letak rumah Darayana dengan Iwan tidak jauh sekitar 200 meter. Mereka berada dalam satu desa di Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Iwan menjelaskan bahwa cara bertani di desanya banyak menggunakan pupuk urea dan pestisida. Menurutnya, selain berbahaya bagi kesehatan, cara bertani seperti itu juga merusak tanaman.

“Pupuk urea numpuk di tanah. Bukannya tambah subur malah jadi hilang kesuburannya karena kimia,” kata Iwan yang juga merupakan seorang petugas adminstrasi di sekolah dasar. Iwan resah. Produksi petani di desanya terasa semakin rentan gagal panen akibat cuaca.

Iwan mengatakan salah satu penyebab ketidakstabilan cuaca adalah kebiasaan petani. “Mereka (petani) setelah panen bakar jerami. Kan itu bisa membuat efek kaca. Belum lagi, bahan-bahan kimia dalam pupuk atau pestisida. Petani tidak sadar kalau pemanasan global karena mereka sendiri,” kata Iwan.

Bertani organik: GO SRI

Iwan mempelajari cara bertani tersebut sejak 2008. Saat itu, Desa Ciapus dapat program pelatihan pertanian padi organik dari Ganesha Organic System of Rice Intensification (GO SRI). Lembaga tersebut merupakan, kumpulan alumni dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan perusahaan untuk menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR). “Dari pelatihan itu, saya diajari bagaimana cara bertani yang baik tanpa harus menggunakan bahan kimia,” kata Iwan yang juga merupakan ketua kelompok tani di Desa Ciapus.

Dalam pelatihan itu, Iwan bertemu dengan Utju Suiatna, pimpinan GO SRI. Iwan belajar banyak cara bertani yang baik. Ia mengatakan, cara bertani SRI tidak sekadar menggunakan pupuk organik. “SRI beda dengan organik,” kata Iwan.

Iwan mengatakan prinsip bertani SRI memperlakukan tanaman sebagai makhluk hidup. Selain pemakaian pupuk dan bibit yang berbeda dengan konvensional, pertanian SRI pada padi tidak perlu menggunakan air dalam jumlah banyak. “Air hanya membecekkan tanah. Selama ini, tanam padi harus menggenangkannya dengan air,” kata Iwan.

Menurut Iwan, dari hasil pelatihan itu, menggenang padi dengan air membuat tanaman menjadi jenuh sehingga berdampak terhadap kualitas padi. “Petani juga bisa menanam saat musim kering karena tidak perlu banyak air,” kata Iwan.

Selepas pelatihan tersebut, Iwan menyadari punya tanggung jawab untuk menyebarkan pengetahuannya kepada petani di desanya. Namun, ia mengatakan sulit untuk mengubah budaya bertani para petani. “Mereka banyak anggap saya tidak tahu apa-apa. Karena saya baru bertani dan dipikir tidak berpengalaman dibandingkan petani yang sudah puluhan tahun,” kata Iwan.

Iwan yang juga menggarap lahan milik kakaknya mencoba menerapkan pertanian SRI, namun dapat pertentangan dari keluarganya. “Keluarga saya sendiri tidak percaya dengan cara bertani seperti ini. Awalnya, produksi menurun. Saya dimarahi. Namun, saya terus coba, akhirnya produksi stabil malah semakin lama bertambah banyak,” kata Iwan.

Kini, enam tahun berselang Iwan tidak sendiri. Ia bersama Darayana dan beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani yang ia pimpin telah menerapkan pertanian SRI. Ia bersama kelompok taninya juga menyebarkan teknik pertanian SRI kepada desa lain di sekitarnya. Iwan mengatakan bersedia menyediakan pupuk kandang, kompos dan bibit bagi petani yang ingin menerapkan pertanian SRI.

Menurutnya, banyak petani yang merasa ragu mengenai ketersediaan pupuk saat ingin menanam, sehingga, ia berani menyediakan pupuk kompos buatannya. Selain itu, bagi petani yang telah menerapkan SRI, Iwan mengatakan tidak terdapat keterikatan pasar. “Sok, bagi yang menemukan harga di atas untuk menjualnya sendiri tanpa melalui saya. Bagi petani yang telah menerapkan SRI namun tidak menemukan pasar bisa saya tampung,” kata Iwan.

Ia juga menyisihkan pendapatannya untuk membeli buku pertanian sehingga dapat diterapkan di desanya. “Uangnya juga saya pakai untuk ikut pelatihan pertanian di luar,” kata Iwan. Ia mengatakan dari hasil pelatihan tersebut kerap menemukan cara bertani yang baik sehingga diterapkan di desanya. Ia mengatakan, meskipun hasil pertanian SRI harganya lebih mahal dibandingkan padi biasa, namun pasarnya sangat terbuka.

“Ada orang yang jauh-jauh dari Jakarta, datang ke Ciapus ingin beli padi dari sini. Selain itu, kami juga masih kekurangan untuk memasok permintaan dari perusahaan yang membeli padi SRI,” kata Iwan. Meskipun memiliki perbedaan antara pertanian SRI dengan konvensional, Iwan menjelaskan tanaman padi harus dilakukan perawatan secara insentif. Menurutnya, para petani konvensional datang ke sawah hanya untuk menanam, menyiram dan panen. “Petani harus setiap hari datang ke sawah. Seharusnya, sawah itu jadi kantor,” kata Iwan.

Iwan mengatakan dengan pertanian SRI dapat melepas ketergantungan petani terhadap pupuk. Selain itu, petani juga dapat meningkatkan produksi sekaligus nilai jual. “Kalau cara bertani ini berlangsung dalam jumlah besar maka petani memiliki potensi ekonomi yang besar,” kata Iwan.

Gerakan sosial, bertani yang benar

Pencetus teknik pertanian SRI adalah organisasi GO SRI. Organiasi tersebut dikomandoi oleh Utju Suiatna, alumni Ilmu Fisika ITB yang juga bertani. Ia yang menjabat sebagai Ketua Departemen Pemeberdayaan UKM mendidik masyarakat terutama anak muda untuk berwirausaha dengan mendirikan Ganesha Enterpreneur.

Saat itu, Utju yang berdomisili di Garut, Jawa Barat bertemu dengan wirausahawan yang juga temannya mencari beras organik untuk dijual. “Dibilang teman saya saat itu, permintaan beras organik di Jakarta sangat tinggi namun suplainya rendah sekali. Jadi, saya membantu dia untuk mencari beras di daerah Bandung, tempat saya tinggal. Saya juga harus belajar mengenai pertanian organik,” kata Utju saat saya wawancarai via telepon.

Ia keliling mencari beras tersebut. “Saat itu saya memerhatikan kondisi petani. Ia berpikir mencari penyebab para petani di Indonesia tidak bisa sejahtera dibandingkan petani-petani di negara maju. Ia sadar para petani menanam padinya dengan cara yang salah. Dan ini hampir dilakukan petani di Indonesia. “Petani Indonesia melakukan padinya hanya sebagai objek benda mati. Mereka zalim terhadap makhluk hidup. Ini pula yang membuat mereka kesulitan dalam memanen padinya,” kata Utju.

Sejak itu, ia membentuk GO SRI di tahun 2008 bersama beberapa orang teman. GO SRI merupakan gerakan sosial yang didirikan bertujuan membantu petani untuk menanam padinya secara tepat. GO SRI melatih petani mengenai bercocok tanam padi organik.

Ia memperkenalkan dan melatih teknik pertanian SRI. Awalnya, ia datang sendiri ke daerah-daerah di Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, ia mendapati daerah wilayah pertanian, termasuk Desa Ciapus. Ia memberikan pelatihan kepada para petani sekitar selama satu hari untuk diberikan pelatihan.

Ia menyadari teknik pertanian SRI harus disebarluaskan ke daerah lain karena banyak petani yang masih menanam secara konvensional. Hingga saat ini sudah beberapa daerah saya datangi untuk memberi pelatihan pertanian, seperti Karawang, Jawa Tengah, Cilacap, Jawa Timur, Lampung, Palembang, Aceh. Toli-toli hingga Maluku Tenggara Barat.

“Untuk daerah-daerah yang bisa dijangkau saya tidak mengharapkan bayaran apa-apa. Mungkin orang yang mengundang kita memberikan uang bensin saja sebagai transport. Saya juga bekerjasama dengan CSR dari perusahaan-perusahaan,” kata Utju. Ia juga sudah membuat dua buku mengenai teknik pertanian organik. Judulnya Bertani dengan Akal dan Nurani, dan Bertani Padi Organik Pola Tanam SRI. “Ini saya tulis untuk memudahkan orang-orang mempelajari teknik pertanian sehingga mereka mampu melakukan teknik pertanian tersebut tanpa saya harus datang,” kata Utju.

Ia tak berharap pamrih dari pendidikannya kepada para petani. Ia khawatir mengenai kondisi kesejahteraan petani. “Jika saya berpikir untung, bisnis padi organik sangat menguntungkan sekali. Namun kondisi petani di Indonesia sangat menghawatirkan padahal tanah Indonesia sangat subur. Petani terlilit hutang dengan tengkulak. Ini disebabkan teknik pertanian yang salah. Inilah yang membuat saya peduli dengan nasib mereka,” kata Utju.

Sumber : http://www.gatra.com/fokus-berita/69079-teknik-pertanian-sri,-revolusi-petani-indonesia.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel