google-site-verification=IVOqN9zefZ2xmz4Lr5KJUHKnhySjBo5yl3cZM-cxu8s -->

Begini Cara Bertani Di Lahan Yang Sering Tergenang

Begini Cara Bertani Di Lahan Yang Sering Tergenang

  • Sekitar 74 orang petani dari Indragiri Hilir, Palalawan dan Bengkalis, Riau, mengikuti praktik pengelolaan lahan gambut ramah lingkungan dari Badan Restorasi Gambut (BRG).
  • Petani belajar cara bertani dengan menyesuaikan dengan kondisi lahan yang kerap tergenang atau kebanjiran maupun di lahan gambut. Ada cara mengolah lahan tanpa bakar sampai belajar cara merangsang buah.
  • Mereka belajar cari bikin pupuk organik, cara mengatasi keasaman tanah, sampai bagaimana melawan hama dengan cara-cara ramah lingkungan.
  • Bahan-bahan untuk membuat beragam cara bertani ramah alam ini bisa didapatkan dari lingkungan sekitar.

Kalau punya lahan sering tergenang atau kebanjiran maupun berada di lahan gambut, kini petani tak perlu was-was gagal panen atau bakal tanam tertunda. Mereka bisa tetap bertani. Caranya? Lewat pertanian terapung. Itulah salah satu cara bertani yang diajarkan kepada sekitar 74 petani dari Indragiri Hilir, Palalawan dan Bengkalis, Riau.

Mereka mengikuti praktik pengelolaan lahan gambut ramah lingkungan dari Badan Restorasi Gambut (BRG). Ia berlangsung selama empat hari di Kampung Jati Baru, Kecamatan Bungaraya, Siak, Riau.

Petani begitu antusias ingin tahu cara pertanian terapung. Model ini sederhana. Membuat rakit bambu sesuai ukuran yang diinginkan. Pada bagian atas rakit dilapisi tanaman hidup dalam air seperti enceng gondok, rumput maupun akar tanaman lain. Lumuri dengan lumpur dan tanah untuk penyempurnaan media tanam. Supaya rakit tak tenggelam, tambahkan pelampung di bagian bawah.

Syahroni, pengajar sekolah lapang, mengatakan, model bertani seperti itu cocok pada rawa gambut atau lahan yang sering tergenang dalam waktu lama. Petani tak perlu frustasi lagi bila lahan terendam air. Dengan begitu, petani lebih kreatif dan makin beradaptasi dengan lingkungan dan tak perlu buat parit atau kanal untuk mengeringkan lahan.

“Di beberapa tempat, model pertanian ini justru jadi daya tarik dan obyek wisata,” katanya.

Begini Cara Bertani Di Lahan Yang Sering Tergenang
 
 
Kencing hewan dicampur dengan beberapa bahan organik untuk pembuatan pupuk mengatasi hama tanaman. Foto: Suryadi/ Mongabay Indonesia

Masalah tumpukan kayu, rumput dan ranting pada lahan ternyata juga dapat diatasi tanpa membakar. Syamsul menganjurkan para petani memanfaatkan sebagai media tanam. Tumpukan-tumpukan itu cukup ditimbun dengan tanah hingga padat. Cara ini disebut hugelkultur.

Cara lain juga diajarkan dengan membuat kebun melingkar. Biasa di pekarangan rumah. Tujuannya, mengatur tata air dan nutrisi tanaman supaya tak menyebar ke mana-mana. Teknik ini buat petani dan siapapun yang melihat jadi menyenangkan. Bahkan, anak-anak atau siswa-siswa yang tertarik praktik di sekolah.

Organik

Apapun jenis dan model pertanian, tetap pakai pupuk organik. Pada sekolah lapangan ini, petani juga belajar menyiapkan pupuk organik untuk menetralkan pH gambut. F1 Embio, namanya. Pupuk cair ini kerap BRG kenalkan tiap bimbingan di masayarakat hasil ramuan Joko Wiryanto.

Bahan-bahannya, nenas tua atau mulai membusuk, gula merah atau gula putih, tepung ubi atau sagu, vitamin b kompleks, terasi dan kotoran ayam.

Proses pembuatan terbilang mudah. Panaskan sekitar satu liter air, masukkan bahan satu persatu kecuali kotoran ayam, sembari aduk sampai mendidih. Setelah masak, diamkan beberapa jam. Kotoran ayam dapat dicampur setelah cairan itu dingin. Lebih bagus apabila kotoran ayam yang baru keluar dari tempat pembuangan.

Setelah semua bahan lengkap, diamkan lagi selama 18 jam. Tutup dan jauhkan dari sinar matahari. Sebelum digunakan, campurkan 1 satu liter F1 Embio dengan 60 liter air ditambah satu kg gula merah lagi. Aduk sampai rata, biarkan selama 24 jam. F1 Embio dapat disiram pada tanah yang akan ditanami pagi dan sore hari.

Begini Cara Bertani Di Lahan Yang Sering Tergenang
Sekam padi setelah jadi arang dapat digunakan pada tanah gambut untuk menetralkan keasamannya tanpa membakar lahan itu. Foto: Suryani/ Mongabay Indonesia

Joko Wiryanto, mengatakan, pupuk dapat digunakan berulangkali dan sangat membantu perkembangan mikroorganisme dalam tanah, seperti bakteri. Ia juga baik pada tanaman. Untuk lahan yang baru pertama kali diolah, penanaman dapat dilakukan setelah satu minggu disiram F1 Embio.

Cara lain mengatasi keasaman tanah, dengan arang sekam padi. Ia dibakar dengan corong kawat sampai menghitam. Cara menggunakannya, cukup ditabur pada tanah, pot tanaman atau lubang tertentu yang akan ditanami seperti ketika cabai.

Selain mengandung silika, arang sekam juga memiliki kadar air, protein kasar, lemak, serat kasar, abu dan karbohidrat. Ada juga kandungan karbon atau zat arang, hidrogen dan oksigen. Masing-masing komposisi memiliki persentase kandungan tersendiri.

Syamsul A, pengajar sekolah lapangan, mengatakan, arang sekam selain menetralkan pH tanah, juga melawan racun karena penggunaan pupuk kimia berlebih pada tanah. “Cara ini sangat hemat. Sekam padi dapat dimanfaatkan kembali.”

Para petani yang ikut sekolah lapang ini selalu menghadapi masalah hama dan jamur. Para pengajar mengenalkan mereka bahan-bahan pembuatan pupuk organik.

Bahan organik untuk perangsang pertumbuhan batang tanaman. Foto: Suryadi/ Mongabay Indonesia
Bahan organik untuk perangsang pertumbuhan batang tanaman. Foto: Suryadi/ Mongabay Indonesia

Untuk melawan hama tanaman, diajarkan cara pembuatan pestisida nabati. Ia dari bahan beracun seperti, tuba, gadung dan tembakau. Ada juga keladi, ditambah serai, bawang putih, merica, brotowali dan pasak bumi.

Bahan dipotong halus dan campurkan dalam satu wadah. Tambahkan dua liter kencing hewan dan dua liter air. Peram seminggu sebelum disemprot pada tanaman. Buat penyemprotan, satu liter pupuk ditambah 15 liter air lagi.

“Buatnya sangat mudah dan ramah lingkungan karena bahan dari tumbuh-tumbuhan sekitar kita,” kata Kholik, juga pengajar sekolah lapang.

Resep mengatasi jamur juga ada. Cukup 100 gram bawang putih, lengkuas dan kunyit diparut, tambah 20 gram kapur sirih dan merica. Larutkan bahan-bahan itu dengan 15 liter air lalu disaring. Setelah itu langsung semprotkan pada tanaman.

Tak sekadar mengetahui bagaimana mengatasi masalah penyakit tanaman, para pengajar juga mengenalkan cara merangsang pertumbuhan tanaman. Sebagian bahan-bahan masih memanfaatkan tanaman di sekitar petani.

Untuk merangsang pertumbuhan batang, cukup tiga butir air kelapa, tiga ons kapur sirih, 300 mg vetsin, batang pisang, sabut kelapa dan akar enceng gondok. Cincang halus batang kelapa dan sabut serta akar enceng gondong lalu rendam dalam air kelapa selama tiga minggu, sampai warna menghitam. Sebelum disemprotkan pada daun, air disaring terlebih dahulu.

“Tidak perlu pakai pupuk kimia,” kata Joko.

Begitu juga untuk merangsang buah. Hanya dengan tiga butir telur, susu, F1 Embio dan buah-buahan. Semua campur dan kocok sampai merata. Buah-buahan disesuaikan dengan tanaman yang akan dipupuk. Bila buah manis, harus mencampurkan buah manis. Begitu sebaliknya.

Satu kilogram pupuk bisa dicampur dengan satu tangki air dan untuk tanaman besar. Joko bilang, bunga tanaman tak akan cepat jatuh atau rontok. “Hasilnya, justru bisa panen melebihi biasa.”

Sekolah ini jadi makin lengkap karena peserta juga belajar mengolah lahan tanpa bakar.

Saat sekolah lapang juga ada mengunjungi beberapa kader BRG yang mengolah hasil produksi mereka. Indriani, di Kampung Tuah Indrapura, setelah mengikuti pelatihan pengolahan makanan beberapa bulan lalu, kini menghasilkan keripik kelapa, mie sayur dan beragam makanan olahan tanaman.

Indriani dibantu alat pengolahan dari BRG. Kini, dia tinggal mengemas agar lebih menarik.

Keterangan foto utama:  Simulasi pertanian terapung dengan rakit bambu untuk pertanian di rawa gambut. Foto: Suryadi/ Mongabay Indonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close
[ klik disini 1X ] [ close ]